Jumat, 03 Oktober 2014

CASE STUDY ON SYSTEM INFORMASI - 1


Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Semangat pagi dan salam membaca,
Pada perjumpaan ini saya akan sedikit menyorot teknologi yang biasa dijumpai dimarket-market dan beberapa swalayan menengah hingga yang besar sekalipun didekat-dekat rumah. Pembaca, sudah tentuh mereka sangat membutuhkan peran teknologi untuk membackup semua aktifitas karyawan dan barang dagangan yang tidak sedikit lagi, dan ditambah lagi berbagai macam produk dan macam-macam jenis barang yang harus terstruktur dan rapi untuk menyamankan pembeli sehingga dapat menarik passion pembeli untuk tetap berbelanja ditoko tersebut. Tidak sampai disitu, peran teknologi saat ini sangat mempunyai andil begitu besar, melihat begitu banyak data-data produsen yang harus terdata dengan baik, karna kalau tidak begitu dapat mematikan relasi antra kedua, atau bisa jadi harus dirugikan diantra salah satunya, jika sampai seperti itu maka sudah pasti harus memulai lagi dari bawah. Lagi-lagi masih peran teknologi sangat diperlukan untuk karyawan misalnya dalam pembuatan report, melihat begitu pentingnya laporan itu hingga sangat besar pertanggung jawaban yang diemban, karna dari laporan tersebut teropong aktiva dan pasifa dari sebuah perusahaan, selain itu laporan juga merupakan hal penting untuk mengetahui apakah kemajuan yang didapatkan dalam bulan ini atau bahkan penyusutan dari perusahaan yang didirikan itu, begitu besar peran kerapian pekerjaan yang terkodinir, data yang terstruktur hingga sebuah laporan yang yang menjadi hipotesa dari suatu aktifitas perdaganagan.
Ada 2 teknologi yang bisa menjadi solusi dalam hal ini:
1.      Kode bar atau lebih kita kenal dengan barcode adalah susunan garis cetak vertikal hitam putih dengan lebar berbeda untuk menyimpan data-data spesifik seperti kode produksi, nomor identitas, dll sehingga sistem komputer dapat mengidentifikasi dengan mudah, informasi yang dikodekan dalam barcode. Sekarang barcode dapat dijumpai dimana-mana, disupermarket, swalayan, atau di warung-warung yang ada di sekitar kita, banyak sekali kita jumpai produk-produk yang terdapat banyak garis hitam vertikal warna hitam yang saling berdekatan. Itulah yang disebut barcode. Di dalam barcode tersebut terdapat informasi atau data yang biasanya berupa data angka. Angka tersebut biasanya juga tercantum di bawah barcode tersebut.
Selain itu, perangkat seperti komputer lebih mudah membaca sesuatu yang bersifat digital daripada angka yang bersifat analog. Kode barcode dengan warna contrast (hitam di atas putih) sangat mudah dikenali oleh sensor optik CCD (Charge Couple Device) atau laser yang ada pada alat pemindai (Scanner), untuk kemudian diterjemahkan oleh komputer menjadi angka.
Dan lebih jelasnya, Barcode merupakan instrumen yang bekerja berdasarkan asas kerja digital. Pada konsep digital, hanya ada 2 sinyal data yang dikenal dan bersifat boolean, yaitu 0 atau 1. Ada arus listrik atau tidak ada (dengan besaran tegangan tertentu, misalnya 5 volt dan 0 volt). Barcode menerapkannya pada batang-batang baris yang terdiri dari warna hitam dan putih. Warna hitam mewakili bilangan 0 dan warna putih mewakili bilangan 1. Mengapa demikian? Karena warna hitam akan menyerap cahaya yang dipancarkan oleh alat pembaca barcode, sedangkan warna putih akan memantulkan balik cahaya tersebut. Selanjtnya, masing-masing batang pada barcode memiliki ketebalan yang berbeda. Ketebalan inilah yang akan diterjemahkan pada suatu nilai. Demikian, karena ketebalan batang barcode menentukan waktu lintasan bagi titik sinar pembaca yang dipancarkan oleh alat pembaca.
Dan sebab itu, batang-batang barcode harus dibuat demikian sehingga memiliki kontras yang tinggi terhadap bagian celah antara (yang menentukan cahaya). Sisi-sisi batang barcode harus tegas dan lurus, serta tidak ada lubang atau noda titik ditengah permukaannya. Sementara itu, ukuran titik sinar pembaca juga tidak boleh melebihi celah antara batang barcode. Saat ini, ukuran titik sinar yang umum digunakan adalah 4 kali titik yang dihasilkan printer pada resolusi 300dpi. Saat ini terdapat beberapa jenis instrumen pembaca barcode, yaitu: pena, laser, serta kamera. Pembaca berbentuk pena memiliki pemancar cahaya dan dioda foto yang diletakkan bersebelahan pada ujung pena. Pena disentuhkan dan digerakkan melintasi deretan batang barcode. Dioda foto akan menerima intensitas cahaya yang dipantulkan dan mengubahnya menjadi sinyal listrik, lalu diterjemahkan dengan sistem yang mirip dengan morse.

2.      RFID singkatan dari Radio Frequency Identification, teknologi yang sudah ada sejak tahun 1945 an, oleh Léon Theremin menemukan alat mata-mata untuk pemerintah Uni Soviet yang dapat memancarkan kembali gelombang radio dengan informasi suara. Gelombang suara menggetarkan sebuah diafragma (diaphragm) yang mengubah sedikit bentuk resonator, yang kemudian memodulasi frekuensi radio yang terpantul. Walaupun alat ini adalah sebuah alat pendengar mata-mata yang pasif dan bukan sebuah kartu/label identitas, alat ini diakui sebagai benda pertama dan salah satu nenek-moyang teknologi RFID. Beberapa publikasi menyatakan bahwa teknologi yang digunakan RFID telah ada semenjak awal era 1920-an, sementara beberapa sumber lainnya menyatakan bahwa sistem RFID baru muncul sekitar akhir era 1960-1970 an.
Suatu metode yang mana bisa digunakan untuk menyimpan atau menerima data secara jarak jauh dengan menggunakan suatu piranti yang bernama RFID tag atau transponder. Suatu RFID tag adalah sebuah benda kecil, misalnya berupa stiker adesif, dan dapat ditempelkan pada suatu barang atau produk. RFID tag berisi antena yang memungkinkan mereka untuk menerima dan merespon terhadap suatu query yang dipancarkan oleh suatu RFID transceiver. Selain itu RFID jauh lebih memberikan keuntungan pada penggunanya dibanding barcode, diantaranya adalah, dengan menggunakan RFID tidak ada kontak atau bahkan line-of-sight diperlukan untuk membaca data dari sebuah produk yang berisi tag RFID. Ini berarti scanner kasir tidak lebih di toko kelontong, ada kotak pengiriman lebih membongkar, dan kunci mendapatkan tidak lebih dari saku untuk memulai mobil Anda. Selain itu, teknologi RFID juga dapat bekerja dalam hujan, salju dan lingkungan lainnya di mana bar code atau teknologi pemindaian optik akan sia-sia.
RFID banyak mendapatkan penghargaan ISO (Organisasi Internasional untuk Standardisasi) diantaranya:
ü  ISO 15693-Smart Label
ü  ISO 14443-Contactless pembayaran
ü  ISO 11784-TernakEPC-Retail
ü  ISO 18000-Berbagai frekuensi, berbagai aplikasi
Adapun macam-mcam frecuency yang ada pada RFID sendiri adalah:
ü  LF Aplikasi (125kHz): kontrol akses, ternak, waktu ras, pelacakan pallet, immobilizers otomotif, identifikasi hewan peliharaan
ü  HF Aplikasi (13.56MHz): Supply chain, nirkabel commerce, tiket, otentikasi produk, identifikasi pakaian, perpustakaan identifikasi buku, kartu pintar
ü  Aplikasi UHF (860-960MHz): Supply chain, Tags Tool, RTLS, Kasus EPC dan Pallet
Sehingga mahal harganya untuk standart swalayan-swalayan adanya.




refrensi:

0 komentar:

Posting Komentar