Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Semangat pagi dan salam membaca,
Pada perjumpaan ini saya akan sedikit menyorot teknologi yang biasa
dijumpai dimarket-market dan beberapa swalayan menengah hingga yang besar
sekalipun didekat-dekat rumah. Pembaca, sudah tentuh mereka sangat membutuhkan
peran teknologi untuk membackup semua aktifitas karyawan dan barang dagangan
yang tidak sedikit lagi, dan ditambah lagi berbagai macam produk dan macam-macam
jenis barang yang harus terstruktur dan rapi untuk menyamankan pembeli sehingga
dapat menarik passion pembeli untuk tetap berbelanja ditoko tersebut. Tidak
sampai disitu, peran teknologi saat ini sangat mempunyai andil begitu besar,
melihat begitu banyak data-data produsen yang harus terdata dengan baik, karna
kalau tidak begitu dapat mematikan relasi antra kedua, atau bisa jadi harus
dirugikan diantra salah satunya, jika sampai seperti itu maka sudah pasti harus
memulai lagi dari bawah. Lagi-lagi masih peran teknologi sangat diperlukan
untuk karyawan misalnya dalam pembuatan report, melihat begitu pentingnya
laporan itu hingga sangat besar pertanggung jawaban yang diemban, karna dari
laporan tersebut teropong aktiva dan pasifa dari sebuah perusahaan, selain itu
laporan juga merupakan hal penting untuk mengetahui apakah kemajuan yang
didapatkan dalam bulan ini atau bahkan penyusutan dari perusahaan yang
didirikan itu, begitu besar peran kerapian pekerjaan yang terkodinir, data yang
terstruktur hingga sebuah laporan yang yang menjadi hipotesa dari suatu
aktifitas perdaganagan.
Ada 2 teknologi yang bisa menjadi solusi dalam hal ini:
1.
Kode
bar atau lebih kita kenal dengan barcode adalah susunan
garis cetak vertikal hitam putih dengan lebar berbeda untuk menyimpan data-data
spesifik seperti kode produksi, nomor identitas, dll sehingga sistem komputer
dapat mengidentifikasi dengan mudah, informasi yang dikodekan dalam barcode. Sekarang
barcode dapat dijumpai dimana-mana, disupermarket, swalayan, atau di
warung-warung yang ada di sekitar kita, banyak sekali kita jumpai produk-produk
yang terdapat banyak garis hitam vertikal warna hitam yang saling berdekatan.
Itulah yang disebut barcode. Di dalam barcode tersebut terdapat informasi atau
data yang biasanya berupa data angka. Angka tersebut biasanya juga tercantum di
bawah barcode tersebut.
Selain itu, perangkat seperti komputer lebih mudah membaca sesuatu
yang bersifat digital daripada angka yang bersifat analog. Kode barcode dengan
warna contrast (hitam di atas putih) sangat mudah dikenali oleh sensor optik CCD
(Charge Couple Device) atau laser yang ada pada alat pemindai (Scanner),
untuk kemudian diterjemahkan oleh komputer menjadi angka.
Dan lebih jelasnya, Barcode merupakan instrumen yang bekerja
berdasarkan asas kerja digital. Pada konsep digital, hanya ada 2
sinyal data yang dikenal dan bersifat boolean, yaitu 0 atau 1. Ada arus listrik
atau tidak ada (dengan besaran tegangan tertentu, misalnya 5 volt dan 0 volt).
Barcode menerapkannya pada batang-batang baris yang terdiri dari warna hitam
dan putih. Warna hitam mewakili bilangan 0 dan warna putih mewakili bilangan 1.
Mengapa demikian? Karena warna hitam akan menyerap cahaya yang dipancarkan oleh
alat pembaca barcode, sedangkan warna putih akan memantulkan balik cahaya
tersebut. Selanjtnya, masing-masing batang pada barcode memiliki ketebalan yang
berbeda. Ketebalan inilah yang akan diterjemahkan pada suatu nilai. Demikian,
karena ketebalan batang barcode menentukan waktu lintasan bagi titik sinar
pembaca yang dipancarkan oleh alat pembaca.
Dan sebab itu,
batang-batang barcode harus dibuat demikian sehingga memiliki kontras yang
tinggi terhadap bagian celah antara (yang menentukan cahaya). Sisi-sisi batang
barcode harus tegas dan lurus, serta tidak ada lubang atau noda titik ditengah
permukaannya. Sementara itu, ukuran titik sinar pembaca juga tidak boleh
melebihi celah antara batang barcode. Saat ini, ukuran titik sinar yang umum
digunakan adalah 4 kali titik yang dihasilkan printer pada resolusi 300dpi. Saat
ini terdapat beberapa jenis instrumen pembaca barcode, yaitu: pena, laser,
serta kamera. Pembaca berbentuk pena memiliki pemancar cahaya dan dioda foto
yang diletakkan bersebelahan pada ujung pena. Pena disentuhkan dan digerakkan
melintasi deretan batang barcode. Dioda foto akan menerima intensitas cahaya
yang dipantulkan dan mengubahnya menjadi sinyal listrik, lalu diterjemahkan
dengan sistem yang mirip dengan morse.
2.
RFID
singkatan dari Radio Frequency Identification, teknologi yang sudah ada
sejak tahun 1945 an, oleh Léon Theremin menemukan alat mata-mata untuk
pemerintah Uni Soviet yang dapat memancarkan kembali gelombang radio dengan
informasi suara. Gelombang suara menggetarkan sebuah diafragma (diaphragm)
yang mengubah sedikit bentuk resonator, yang kemudian memodulasi frekuensi
radio yang terpantul. Walaupun alat ini adalah sebuah alat pendengar mata-mata
yang pasif dan bukan sebuah kartu/label identitas, alat ini diakui sebagai
benda pertama dan salah satu nenek-moyang teknologi RFID. Beberapa publikasi
menyatakan bahwa teknologi yang digunakan RFID telah ada semenjak awal era 1920-an,
sementara beberapa sumber lainnya menyatakan bahwa sistem RFID baru muncul
sekitar akhir era 1960-1970 an.
Suatu metode
yang mana bisa digunakan untuk menyimpan atau menerima data secara jarak jauh
dengan menggunakan suatu piranti yang bernama RFID tag atau transponder.
Suatu RFID tag adalah sebuah benda kecil, misalnya berupa stiker adesif, dan
dapat ditempelkan pada suatu barang atau produk. RFID tag berisi antena yang
memungkinkan mereka untuk menerima dan merespon terhadap suatu query yang
dipancarkan oleh suatu RFID transceiver. Selain itu RFID jauh lebih
memberikan keuntungan pada penggunanya dibanding barcode, diantaranya adalah,
dengan menggunakan RFID tidak ada
kontak atau bahkan line-of-sight diperlukan untuk membaca data dari sebuah
produk yang berisi tag RFID. Ini berarti scanner kasir tidak lebih di toko
kelontong, ada kotak pengiriman lebih membongkar, dan kunci mendapatkan tidak
lebih dari saku untuk memulai mobil Anda. Selain itu, teknologi RFID juga dapat
bekerja dalam hujan, salju dan lingkungan lainnya di mana bar code atau
teknologi pemindaian optik akan sia-sia.
RFID banyak mendapatkan penghargaan ISO (Organisasi Internasional
untuk Standardisasi) diantaranya:
ü ISO 15693-Smart Label
ü ISO 14443-Contactless pembayaran
ü ISO 11784-TernakEPC-Retail
ü ISO 18000-Berbagai frekuensi, berbagai aplikasi
Adapun macam-mcam frecuency yang ada pada RFID sendiri adalah:
ü LF Aplikasi (125kHz): kontrol akses, ternak, waktu ras,
pelacakan pallet, immobilizers otomotif, identifikasi hewan peliharaan
ü HF Aplikasi (13.56MHz): Supply chain, nirkabel commerce, tiket,
otentikasi produk, identifikasi pakaian, perpustakaan identifikasi buku, kartu
pintar
ü Aplikasi UHF (860-960MHz): Supply chain, Tags Tool, RTLS, Kasus
EPC dan Pallet
Sehingga
mahal harganya untuk standart swalayan-swalayan adanya.
refrensi:

0 komentar:
Posting Komentar